
Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Makassar menyelenggarakan Seminar Nasional Pariwisata Seri II secara daring pada Jumat (17/4) dengan fokus pada pariwisata berkelanjutan. Membuka acara tersebut, Wakil Direktur I, Muhammad Arfin Muhammad Salim, menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara aspek lingkungan, sosial, budaya, dan ekonomi melalui pemberdayaan masyarakat serta pemanfaatan teknologi.
Dalam sesi pemaparan, Panca Oktawirani menyoroti peran krusial pendidikan lingkungan—seperti kampanye pengelolaan sampah dan wisata edukasi—untuk meningkatkan kesadaran wisatawan maupun warga lokal. Walaupun efektif mendorong partisipasi publik, upaya ini diakui masih sering terbentur oleh keterbatasan pendanaan dan masih rendahnya kesadaran dasar masyarakat.
Dari sisi infrastruktur alam, Amiruddin Hamzah memaparkan perlunya pemetaan wilayah pesisir yang akurat sebagai fondasi wisata bahari yang ramah lingkungan. Penggunaan teknologi seperti Sistem Informasi Geografis (SIG) dan drone dinilai sangat tepat untuk mengendalikan daya dukung lingkungan, meskipun pelaksanaannya masih menghadapi tantangan berupa biaya dan kesiapan sumber daya manusia.
Terakhir, Nurlaila Dahlan menekankan bahwa keberhasilan sebuah desa wisata sangat bergantung pada kesiapan SDM, penguatan kelembagaan, dan strategi pengelolaan yang terencana guna mengatasi kendala infrastruktur serta promosi. Secara keseluruhan, seminar ini menyimpulkan bahwa sinergi antara pendidikan lingkungan, pemetaan pesisir berbasis teknologi, dan tata kelola desa wisata adalah kunci utama mewujudkan pariwisata berkelanjutan.

